Matematika adalah sistem kepercayaan

Beberapakali saya mengikuti seminar dengan Narasumber Prof Iwan Pranoto, Guru besar Matematika ITB. Ada perkataan beliau yang saya ingat.

Mathematics is a believe system.

Matematika adalah sistem kepercayaan, di sini saya memahami sistem kepercayaan sebagai agama. Mmm… Prof Iwan menyamakan matematika dengan agama, dulu saya sulit mengerti tapi sekarang saya paham maksud perkataan beliau.

Agama berurusan dengan hal-hal abstrak seperti Tuhan, akhirat, moralitas serta hal-hal transedental lain yang diluar jangkauan kita. Begitupula matematika juga berurusan dengan hal-hal abstrak. Semua hal yang dipelajari matematika itu abstrak bahkan bilangan 1,2,3,… yang kita pelajari sejak kecil adalah konsep abstrak yang kita gunakan untuk mengukur dan menghitung. Jika agama percaya ada hal-hal diluar jangkaun kita seperti Takdir atau Tuhan/Dewa, begitupula matematika sebagai contoh π rasio keliling lingkaran dengan diameternya, nilainya mustahil digangu-gugat, mustahil diubah manusia yaitu 3,14159…. nilai π diluar jangkauan manusia untuk merubahnya. Jadi inilah persamaan mendasar antara agama dan matematika, sama-sama mengrususi hal-hal abstrak. Tentu saja hal-hal abstrak yang dibahas oleh Agama bebeda dengan matematika.

Begitupula dengan sistem atau cara bagaimana hal-hal abstrak tersebut diterima dan dipahami. Agama membutuhkan keimanan untuk menerima dan memahami hal-hal abstraknya sebaliknya yang dibutuhkan matematika untuk memahami hal-hal abstraknya adalah penjelasan yang sahih (baca: pembuktian). Belajar matematika adalah belajar melakukan penjelasan yang menyingkirkan semua keraguan terhadap hal abstrak matematis.

Agama-agama besar didunia mengalami perpecahan, contohnya Islam yang terpecah menjadi 2 kelompok utama Sunni dan Syiah. Begitupula matematika mengalami perpecahan contonya geometri yang terpecah menjadi Geometri Euclidean dan Geometri non-Euclidean. Nah..yang menarik perpecahan di Matematika tidak menimbulkan konflik berbeda dengan perpecahan agama yang menimbulkan konflik. Matematikawan yang berkerja di Geometri Euclidean tidak akan mengatakan sesat atau kafir kepada Matematikawan yang berkerja di Geometri Non-Euclidean.

Bagi saya, matematika dan agama memiliki tujuan yang sama yitu sebagai sarana kita memahami kehidupan semesta ini tentu saja dengan caranya masing-masing

Advertisements

About Aria Turns

Seorang Alumnus Matematika UGM, dengan ilmu yang didapat ketika kuliah (Padahal sering bolos kuliah :p ), saya menyebarkan virus matematika
This entry was posted in dll and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Matematika adalah sistem kepercayaan

  1. Rendiyantoro says:

    Mas, Geometri non-Euclidean itu lebih umum daripada Geometri Euclidean atau memang benar2 berbeda? kalau lebih umum berarti kan Geometri Euclidean bisa didapatkan dari Geometri non-Euclidean..
    Mohon bantuannya..

Silahkan, tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s