Budi dan UN Matematika

stop Ujian NasionalSaya mengajar Matematika kelas X dan XII IPS di salah satu SMA swasta di Bogor. Kemarin (Selasa, 20 mei), pengumuman hasil UN tingkat SMA, ternyata salah seorang siswa kelas XII IPS sebut saja namanya Budi mendapatkan nilai 9 untuk UN Matematika. Apakah itu berarti saya sebagai gurunya telah sukses mengajarkan Budi matematika? Sama sekali tidak, justru sebaliknya saya tidak pernah mengajarinya.

Sejak awal semester 1, Budi telah “dikeluarkan” dari Sekolah karena perilakunya bermasalah. Maksudnya “dikeluarkan” adalah dia tidak bisa mengikuti kegiatan pembelajaran di sekolah dianggap telah keluar tetapi masih bisa mengikuti ujian-ujian termasuk UN (jika kamu berpikir itu kebijakan sekolah yang aneh bin ajaib, jangan kwatir saya juga berpikir demikian). Jadilah Budi hanya datang ke sekolah ketika ujian semester, Ujian akhir sekolah, Try out-try out dan tentu saja UN. Meskipun demikian ternyata nilai UN matematikanya mengagumkan. Saya tidak tahu apakah selama di rumah dia mengikuti home schooling atau hanya ikut bimbel saja tetapi Budi telah menunjukkan bahwa mendapatkan nilai UN yang  tinggi tidak perlu bersekolah, tidak perlu datang ke sekolah.

Sistem pendidikan kita menjadikan UN sebagai muara dari sekolah, kalau seorang anak bisa mendapatkan nilai UN yang tinggi tanpa harus ke sekolah, lalu buat apa ada sekolah? Bubarkan saja.

Katanya fungsi UN adalah mengukur kemampuan anak. Jika Budi yang perilakunya bermasalah bisa mendapatkan nilai UN yang tinggi itu menujukkan, UN tidak mengukur perilaku anak padahal itulah yang terpenting.

Advertisements

About Aria Turns

Seorang Alumnus Matematika UGM, dengan ilmu yang didapat ketika kuliah (Padahal sering bolos kuliah :p ), saya menyebarkan virus matematika
This entry was posted in Pendidikan and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Budi dan UN Matematika

  1. Doel says:

    Assalamu’alaikum,..
    Saya pikir, kalau kita bicara UN, wawasannya harus secara Global , secara Nasional,..gak bisa dong diukur dengan kasus-per-kasus seperti cerita si Budi dan si Anak Fisika diatas,..
    terimakasih,..

  2. Tidak jauh beda dengan saya. Saya guru fisika. Ada siswa saya yang tidak konek jika dijelaskan meteri fisika, Apalagi ia tidak pernah menyelesaikan tugas fisika. Tapi dalam ujian nasional ia mendapat nilai fisika 8,75. Setiap sebelum mengajar fisika saya selalu menjanjikan hadiah bagi yang mendapat nilai 8 keatas. Seolah saya nggak rela kalau harus memberi hadiah anak itu.

Silahkan, tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s