Nasib sang Pencipta di masa depan

Apa yang saya tulis ini tidak berhubungan dengan Matematika. Ada satu hal yang menggangu pikiran saya, akan saya share, diskusikan ke kalian

Name Mythos Description
Tishtrya Persian / Iranian God of Rains
Imdugud Assyrian God of Rain
Addad Assyrian God of Rain
Tefnut Egyptian God of Rain
Yu-Tzu Chinese God of Rain
Taki-Tsu-Hiko Japanese God of Rain
Baiyubibi Ifugao, Philippines God of Rain
Waruna Balinese God of oceans, sea, rain and water
Sodza Hua Great God to whom the priests pray for rain
Mawu Fon Goddess of Rain
Hiro Easter Island God of Rain
Chipiripa Curra Rain God
Tlaloc Aztec God of Great Rain
Chac South America God of Rain
Ganymede Greek Goddess of Rain
Thor Norse God of Rain

List dewa-dewa hujan dari berbagai peradaban, sumber

Dahulu nenek-moyang kita percaya, ada Dewa hujan yang menurunkan hujan. Sekarang kita tahu hujan hanyalah siklus air, bisa dijelaskan sepenuhnya oleh sains. Kita telah mendepak dewa hujan, kita tidak lagi membutuhkan konsep dewa hujan untuk menjelaskan kenapa hujan turun. Bahkan kita telah mampu menjadi “dewa hujan” dengan membuat hujan buatan.

Sekarang kita percaya akan adanya sang Pencipta (baca: Tuhan) yang menciptakan alam semesta beserta isinya termasuk kita. Sampai saat ini sains belum mampu menjelaskan mengapa dan bagaimana alam semesta tercipta. Akan tetapi jika kelak sains mampu menjelaskan sepenuhnya hal tersebut (mengapa dan bagaimana alam semesta tercipta), bahkan banyak saintis yang berkeyakinan kelak kita bisa menjadi Sang Pencipta dengan  menciptakan alam semesta buatan. Silahkan klik di sini untuk mengunduh paper berjudul “How to create a universe”. Nah..yang jadi pertanyaan saya:

Akankah kelak anak-cucu kita mendepak sang pencipta?

Jika kelak kita mampu menciptakan alam semesta buatan , apakah kita masih memegang konsep  adanya Sang Pencipta yang menciptakan alam semesta?

Saya tunggu jawaban kalian


———————————————————————————————————————————————-

**Ingin mendapatkan kaos unik bertema matematika silahkan kunjungi kaos.ariaturns.com**



Advertisements

About Aria Turns

Seorang Alumnus Matematika UGM, dengan ilmu yang didapat ketika kuliah (Padahal sering bolos kuliah :p ), saya menyebarkan virus matematika
This entry was posted in dll, Non Math and tagged , , , . Bookmark the permalink.

33 Responses to Nasib sang Pencipta di masa depan

  1. Indra Herdiana says:

    Sepertinya, konsep Tuhan yang Pak Aria jelaskan di sini lebih sempit daripada konsep Tuhan yang ada pada agama saya. Ya sudah. 🙂

  2. multivac says:

    mantap sekali ! pemikir bebas 🙂

  3. andri says:

    nonsense, tidak ada artinya membahas tentang ini!

  4. Fabi Fuu says:

    jawaban saya… Tidak Mungkin…
    sekian terima kasih

    sumber : ilmu tauhid, theology, tassawuf, filsafat

  5. Pingback: The Creator, Who or What Art Thou? | Spektrum Pemikiranku

  6. Nina says:

    Wah, udah panjang aja. Nimbrung lagi ah.

    Jika kelak sains mampu menjawab pertanyaan

    “alam yang telah melahirkan manusia ini berasal dari manakah?”

    dan ternyata jawaban sains berbeda denganmu, kamu akan tetep memegang jawabanmu (Tuhan), begitupula mayoritas orang akan tetap jawaban sama denganmu, gitu kan maksudmu?

    Komentar eike:

    Meskipun kelak sains mampu menjawabnya, nilai dari jawaban sains itu tetap tidak mutlak (relatif). Karena sains itu sendiri sifatnya relatif. Jadi aneh aja kalau manusia menggantikan jawaban yang nilainya mutlak (Tuhan), dengan jawaban yang nilainya relatif (sains).

    Gak usah nunggu kelak deh, sekarang aja Bang Hawking sudah berani bilang kalau alam semesta itu terjadi tanpa perantaraan Tuhan. :Dv

    Epistemologi barat emang menyesatkan. Hoahm…

    • Aria Turns says:

      Baru kepikiran, mengapa kamu berpendapat tuhan=nilai mutlak?apa yang kamu maksud dengan nilai mutlak? Ada begitu banyak konsep tuhan, bukankah itu membuktikan Tuhan itu relatif, Tuhan itu merupakan produk pemikiran manusia

      • Nina says:

        Ada begitu banyak konsep Tuhan bukan karena Tuhannya yang relatif, tapi karena pemikiran manusianya yang relatif dalam menafsirkan Tuhan. Iya bukan?

        Nggak usah bicara Tuhan dulu soal kerelatifan pemikiran manusia. Kita bicara atom saja. Dulu Aristotle bilang sebuah “benda” bisa dibagi-bagi sampai tak hingga. Lalu orang sepakat dengan dia. Lama-lama datang Dalton yang bilang “benda” itu terdiri dari atom-atom sebagai partikel terkecil yang tidak bisa dibagi-bagi lagi. lalu orangpun sepakat. Eh lama-lama datang lagi si Bohr yang bilang di dalam “benda” itu ada atom, yang di dalamnya ternyata masih ada proton dan neutron yang beredar mengitari inti atomnya. kitapun sepakat. Kenapa bisa dihasilkan penafsiran berbeda antara dulu dan sekarang? Antara penafsiran Aristotle, Dalton, dan Bohr? Padahal “itu” yang kita sebut “benda” yang diamati mereka adalah sesuatu yang sama?

        Kembali ke masalah Tuhan. Tuhan ya Dia yang “itu”, yang memiliki sifat-sifat “itu” yang ditetapkan sendiri olehNya dan tidak membutuhkan pengakuan atau interpretasi dari siapapun untuk membuktikan kebenaran sifat-sifat itu.

        Tuhan itu tidak butuh pengakuan dari manusia. Dia tidak rugi meskipun dianggap tidak ada atau sifat-sifat yang dimilikiNya tidak diakui manusia. Dia tetap Dzat yang “itu”, yang sifatnya adalah “ini dan itu”, Dia bisa “ini-itu begini-begitu”.

        Nah, berkaitan dengan kenyataan akan kerelatifan pemikiran manusia, makanya Tuhan berkenan untuk “memperkenalkan diriNya” . Diturunkanlah kitab suci yang memiliki kebenaran mutlak (kenapa mutlak? karena Tuhan sendiri yang mendeskripsikan diriNya dalam kitab suci tersebut). Jadi manusia tidak perlu repot-repot atau salah kaprah mendeskripsikan Tuhan sesuai pikirannya sendiri, karena dia tinggal mengenali Tuhan sesuai apa yang dikehendakiNya via kitab suci tadi. Muslim sih bilangnya Ma’rifatullah (mengenal Tuhan yang “itu”).

        Jika kelak kita mampu menciptakan alam semesta buatan , apakah kita masih memegang konsep adanya Sang Pencipta yang menciptakan alam semesta?

        Jawab: Sepertinya masih, karena kita akan semakin sadar bahwa dulu kitapun ada yang menciptakan. Siapakah Dia? Dialah yang sejauh ini kita sebut “Tuhan”. Dia yang wujud aslinya belum kita ketahui. 🙂

      • Nina says:

        Oiah, bukan Tuhan=Nilai mutlak,
        Tapi nilai jawaban bahwa “Tuhan adalah pencipta alam semesta” yang mutlak. Kenapa Nilai jawabannya mutlak? Karena jawaban ini asalnya dari si “Dia” yang memang melakukannya sendiri.

        Anggaplah suatu hari Sains menemukan sebuah jawaban bahwa Alam semesta ini berasal dari sesuatu yang mereka sebut ABCD EFGH. Nah, si ABCD EFGH ini sifat-sifatnya adalah J, K, L, M, N, O. Berarti sains pada saat itu hanya sedang berusaha mendeskripsikan apa yang orang awam sebut dengan “Tuhan”. Nah, masalah berikutnya adalah apakah deskripsi sains itu sudah benar? tahu benarnya dari mana? Bagaimana jika ternyata salah? tahu salahnya darimana?

        Sains itu cuma cara mendeskripsikan hal-hal yang nyata, dan ia dianggap benar apabila disepakati banyak orang.

        Jadi sesuatu yang kita sebut “Tuhan” itu ada di luar sana sebagai asal dari alam semesta. Entah nanti bagaimana sains mendeskripsikan “yang menjadi sebab dari segala sesuatu” ini. Masalahnya apakah deskripsi sains ini sudah tepat dan final? ataukah ia akan terus berubah tergantung si manusia yang mengamati, mendeskripsikannya, dan sepakat olehnya.

        Perkembangan sains saat ini mengarah pada bukti2 bahwa alam semesta mampu berdiri sindiri tanpa ada yang lain

        Oya? apa benar tanpa ada yang lain? atau apakah si observer hanya belum berhasil mengangkap gejala dan mengamati keberadaan “yang lain” itu? Atau dia memang sengaja mengabaikan gejala keberadaan “yang lain” itu dan tidak memasukkannya ke dalam laporan hasil penelitian dan ada 1000000 saintis lain yang sepakat dengannya?

        Wao, panjang sekaleh…

  7. Qirdun Mutafakkir says:

    oke, saya tunggu sains untuk membuktikan asal alam ini yang bukan dari Tuhan. saya kira konyol saintis-saintis atheis barat begitu getol menggoda manusia untuk tidak meyakini Tuhan dengan memberikan angan-angan palsu mengenai asal sejati (causa prima) alam ini yang bukan Tuhan. saat kita mau mencari asal sesuatu pasti kita akan berujung dari Satu Dzat, Asal dari semuanya(causa prima), Yang Ada, Tak Berawal dan Juga Tak Berakhir. Dialah Tuhan. kaum yahudi/nasrani menyebutNya The Alfa and Omega. Orang Islam menyebutnya (Huwa) Al-Awwal Wal-Akhir.

    ” Err..apa kamu tahu saya pernah menemui orang yang berpikiran Tuhan hanyalah ada fikiran yang tidak pernah lepas oleh kungkungan ruang dan waktu dan konsep Tuhan akan terus berdinamika seriring dinamika pikiran manusia”

    itulah yang ditanamkan barat atheis. mereka menganggap seolah2 Tuhan hanyalah hasil imajinasi manusia. Dia sebenarnya ada hanya karena di-ada-kan oleh manusia. intinya dia hanya ciptaan manusia. sungguh pandangan atheis tulen. Tuhan Ada tidak karena diciptakan oleh manusia. Tuhan Senantiasa Ada terlepas manusia mau mengadakan atau tidak. Dialah Sang Asal segala sesuatu dan Hanya kepada-Nya kelak semua akan kembali.

  8. qirdun mutafakkir says:

    Tuhan yang dimaksud yang seperti apa nih? Kalau Tuhan yang seperti Dewa-dewa menurut saya akan dilupakan. namun Tuhan sebagai “Sang Ada” itu akan abadi. awal kata saya gunakan huruf besar untuk membedakan sang ada-sang ada relatif, yang terrelasi/ternasabkan/ternisbikan dengan yang lain. sang ada relatif ini selalu mempunyai awal dan akan berakhir. yang tak mampu berdiri sendiri tanpa ada yang lain. Yahwehnya kaum yahudi berarti Ada. Allahnya umat nasrani/yahweh juga berarti ada dan Allahnya Umat Islam juga berarti Ada/Wajibul Wujud. Tuhan Yang ini saya yakin tidak akan pernah terdepak oleh manusia (manusia secara keseluruhan, walaupun ada sebagian yang mengingkarinya).

    andai sudah terbuat alam semesta buatan manusia, bukankah alam semesta ini juga berawal dari manusia berasal dari semesta ruang dan waktu dan alam yang telah melahirkan manusia ini berasal dari manakah?

    • Aria Turns says:

      yang tak mampu berdiri sendiri tanpa ada yang lain

      Perkembangan sains saat ini mengarah pada bukti2 bahwa alam semseta mampu berdiri sindiri tanpa ada yang lain

      alam yang telah melahirkan manusia ini berasal dari manakah?

      Sains belum manjawab pertanyaan mu itu, lalu apa jawabanmu? apa kau akan menjawab “Tuhan”. Jadi “Tuhan” hanya menjadi jawaban atas hal2 yang belum bisa kita jawab oleh sains

      • qirdun mutafakkir says:

        alam semesta dengan ruang dan waktu?? bukankah sains menyatakan alam semesta dengan ruang dan waktu ini bermula. dari singularity. dan kelak saat ruang terobek dan waktu berhenti semesta ruang dan waktu ini akan berakhir (armagedon = kiamat kubro)?? alam semesta ini tidak abadi.

        “alam yang telah melahirkan manusia ini berasal dari manakah?”

        “Sains belum manjawab pertanyaan mu itu, lalu apa jawabanmu? apa kau akan menjawab “Tuhan”. Jadi “Tuhan” hanya menjadi jawaban atas hal2 yang belum bisa kita jawab oleh sains”

        ya, jawaban saya, Tuhan. bukan karena sains tidak menjawab itu. kita tahu keterbatasan sains. dia hanya fikiran yang tidak pernah lepas oleh kungkungan ruang dan waktu. namun karena begitu banyak hikmah yang dapat kita jumpai yang menyadarkan kita akan Dia. Dia tidak hanya Ada tapi Dia Gairah kita menanam kebajikan dan cinta.

        • Aria Turns says:

          Okey jadi saya menyimpulkan, jika kelak sains mampu menjawab pertanyaan

          “alam yang telah melahirkan manusia ini berasal dari manakah?”

          dan ternyata jawaban sains berbeda denganmu, kamu akan tetep memegang jawabanmu (Tuhan), begitupula mayoritas orang akan tetap jawaban sama denganmu, gitu kan maksudmu?
          Err..apa kamu tahu saya pernah menemui orang yang berpikiran Tuhan hanyalah ada fikiran yang tidak pernah lepas oleh kungkungan ruang dan waktu dan konsep Tuhan akan terus berdinamika seriring dinamika pikiran manusia

    • Atheis says:

      Dari kehidupan sebelumnya…. itu merupakan siklus

  9. Nina says:

    Eh iya. Induksi. Menggeneralisasi dari beberapa premis. Kebiasaan suka kebalik namainnya. :shame:

    Kalau menurut eike konsep Tuhan itu nggak akan basi. Karena konsep Tuhan itu mewakili sesuatu yang “sifatnya mutlak”. Sementara sains, tidak akan pernah mencapai tingkat mutlak.

    Contoh Sederhana niy. Dalam Fisika Dasar ada yang namanya konsep uncertainty. Ini dipakai saintis untuk mengukur keakuratan hasil eksperimen mereka. Nilai uncertainty ini tidak akan pernah mencapai 0%. Artinya, sehebat apapun kesimpulan yang dicapai oleh sains, ia tetap relatif. Selalu ada kemungkinan untuk dipatahkan.

    Setahu eike, manusia bukan sekedar butuh penjelasan atas segala sesuatu. Namun ia kadang-kadang butuh suatu landasan yang mutlak ketika terombang-ambing di tengah kehidupan yang serba relatif.
    (ngomong opo iki :shame: )

    • Jelasnggak says:

      Ngomong induksi + uncertainty,..jadi inget cerita seorang atheis yang mencobai Tuh@n..

      Atheis : “Kalau Loe ada, Tuh@n,.. coba buktikan , samber diriku dengan halilintar…., kalau dalam lima detik tidak ada halilintar menyambar, berarti Loe tidak ada!”

      Sang atheis ternyata cuma perlu SATU percobaan untuk membuktikan Tuh@n tidak ada….

      • Nina says:

        Habisnya, prosedur percobaannya ibarat ngukur suhu udara pakai timbangan massa. Eh, skala timbangannya nunjukin 0 kg alias nggak gerak-gerak. Disimpulkanlah bahwa dalam 1000 kali pun percobaan, suhu udara tetap 0 (kg???). 🙂

        Dalam sains, untuk menarik kesimpulan yang benar prosedur percobaan juga harus sesuai kan ya? 🙂

      • Yari N K says:

        Ini ada cerita juga mengenai atheis yang mencobai Tuh@n:

        Atheis : “Kalau Loe ada, Tuh@n,.. coba buktikan , samber diriku dengan halilintar…., kalau dalam lima detik tidak ada halilintar menyambar, berarti Loe tidak ada!”

        Si atheis hanya butuh satu percobaan untuk membuat kesimpulan sendiri ketika 3 detik kemudian ada halilintar menyambar dan ia berkata: “Ah! Itu kan cuma kebetulan!!” 😆 😆

        Jadi emang bener, prosedur percobaan harus tepat dan valid. Dalam kasus si ateis ini, baik halilintar menyembar dalam lima detik atau tidak, tidak dapat membuktikan apa2, tidak bisa membuktikan apakah Tuh@n itu ada atau tidak… 😆 😆

  10. Nina says:

    Namanya belum terjadi, sifatnya masih kemungkinan terbuka. (Konon) kalau narik kesimpulan pake metode deduksi kadang-kadang bisa berbahaya karena bisa saja seseorang terlalu cepat menggeneralisasi hingga kesimpulan yang ditarik malah salah.

    Ini pakai premisnya God of Rain, kok ganjil ya? Perasaan bangsa-bangsa ini ada yang sudah mengeliminasi God of Rain jauh sebelum mereka mengetahui teori fisika mengenai pembentukan hujan. Contohnya bangsa Iran, Assyirian, dan Mesir. God of Rain digantikan dengan konsep baru tentang Tawhid. Bukan karena bangsa-bangsa ini udah mudeng fisika.

    Pernah nonton Kungfu Panda nggak? Waktu Master Oogway ma Master Shifu ngobrol berdua di bawah pohon persik? Trus master Oogway ngasih biji persik ke master Shifu. Adegan yang filosofis. 😀 (OOT gak ya)

    Blognya bagus. d^o^b

    • Aria Turns says:

      Err…deduksi, saya pake logika induksi dalam tulisan ini.
      Apakah suatu bangsa meninggalkan konsep dewa Hujan karena sudah paham fisika atau belum, gak jadi soal bukan itu yang mau saya omongin
      Sekarang kita tahu sepenuhnya secara sains bagaimana hujan turun dan itu membuat konsep dewa hujan menjadi “basi”, kita telah mendepak dewa hujan dalam pengertian kita tidak lagi memakai dewa hujan sebagai jawaban dari pertanyaan bagaimana dan mengapa hujan turun
      Nah bagaimana jika kelak kita sudah mengetahui sepenuhnya secara sains bgaimana dan mengapa alam semseta terbentuk, apakah itu membuat konsep Sang pencipta menjadi basi atau tidak? Nah..ini topik diskusi kita..

  11. Yari N K says:

    Hmmm… andaikan kita nanti bisa menciptakan alam semesta (yang persis sama lho!) bukannya justru menguatkan bukti bahwa alam semesta ini dulu ada yang menciptakan?? Hal tersebut mungkin menjadi lain andaikan nanti pada suatu saat “di tempat lain” kita bisa mendeteksi sebuah alam semesta baru yang lahir dengan sendirinya tanpa ada yang menciptakan…

    • Aria Turns says:

      Mm…bisa jadi alam semseta yang kita tempati ini berasal dari sebuah mesin super canggih yang diciptakan mahluk super cerdas dari alam semseta lain. Berdasarkan Teori multiverse ada tak hingga banyaknya alam semesta
      Tapi satu hal yang saya yakini, jika kelak kita mampu menciptakan alam semseta maka itu akan merombak total konsep ketuhanan yang selama ini kita pakai

      • Yari N K says:

        Ha! Mesin super canggih yang diciptakan makhluk (species) super cerdas? Mungkin saja. Namun sebenarnya konsep ketuhanan tidak begitu penting, apalagi ketika kita sudah sangat maju dan bisa menciptakan alam semesta kelak dan kita malah yakin bahwa alam semesta ini dulu ada yang menciptakan, karena pertanyaan kita sebenarnya adalah: SIAPA ATAU SPECIES MANA YANG MENCIPTAKAN KITA?? Selama kita belum mengetahui secara pasti siapa yang menciptakan kita maka “perang” konsep ketuhanan akan terus berlanjut bahkan tidak tertutup kemungkinan orang2 yang fanatik tetap mempertahankan konsep2 ketuhanan ‘tradisional’. Ketika kita sudah mengetahui secara pasti siapa pencipta kita maka tidak akan ada lagi perang konsep ketuhanan…

  12. hifni says:

    inget mati mas….

  13. enigma says:

    mas-mas ini mikirnya pake logika aj ya.pantas..
    but it’s okay,perbedaan itu indah.

  14. winky says:

    kalau misalnya manusia bisa menciptakan alam semesta, tapi tetep enggak ada yang nyembah,technically itu tetep dinamakan tuhan ato enggak ya?hehe

    • Aria Turns says:

      Jika kelak kita bisa menciptakan alam semseta maka yang menyembah kit adalah “manusia2” yang berada didalam alam semseta ciptaan kita tersebut 🙂

      • bay says:

        ga perlu jauh-jauh mengenai penciptaan alam semesta…..liatlah apa yang ada dalam tubuhmu, otak, paru-paru, jantung dan sebagainya……apakah semenjak lahir kita mempunyai kemampuan untuk mendetakkan jantung??? jangankan mendetakkannya, mengerti apa itu jantung saja tidak sama sekali apalagi mekanismenya….kita tidak mempunyai kemampuan apapun untuk sekedar mengendalikan metabolisme tubuh kita sendiri,yang jelas-jelas kita tempati……bahkan otakpun tidak mengerti apa otak itu sebelum mempelajarinya….dengan demikian dapat disimpulkan “ada kekuatan diluar kemampuan manusia yang mengatur keselarasan metabolisme tubuh kita yaitu TUHAN”

  15. aneh. keyakinan manusia untuk worship itu mungkin sudah tertanam di dalam genetik kali ya? hahaha.
    Tuhan itu produk suatu zaman. selaras arus zaman, konsep Tuhan itu juga pasti akan berevolusi.

    Ada keyakinan bahwa Tuhan adalah jembatan imajiner yang menghubungkan jurang ketidaktahuan. ide tentang Tuhan dibutuhkan manusia untuk menjawab hal-hal yang tidak dia ketahui. semakin banyak hal baru yang kita ketahui, ruang hidup Tuhan akan semakin sempit, dan akhirnya Tuhan akan kehabisan tempat tinggal. saatnya berevolusi dan muncul konsep keTuhan-an yang baru, begitu seterusnya. 🙂

    bukan cuma penciptaan semesta, bukankah hal ini sudah pernah terjadi sepanjang sejarah?

    • Aria Turns says:

      Ya..saya sependapat denganmu, terkadang saya merasa Tuhan hanyalah jawaban dari hal2 yang belum bisa kita Jawab (secara Sains). Jika kelak semua misteri bisa kita jawab sepertinya kita harus merombak total konsep Tuhan..

Silahkan, tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s